Environmental Friendly – Travelling – Unlimited Life

Belajar Sejarah di Melaka (Part.1)

Dulu, waktu jaman SD, Melaka sering banget disebut-sebut di buku-buku IPS Sejarah, dulu gue kenal Melaka sebagai kerajaan yang powerful di semenanjung Malaysia, dulu gue kira Melaka itu di Indonesia, eh ternyata di Malaysia. hehe.

Dulu, Melaka itu tempat buat dagang bagi pedagang-pedagang China, India, Melayu, Jawa, dan etnis lainnya. Melaka menjadi daerah bersejarah yang penting dalam berdirinya negara Malaysia. Sekarang, Melaka sudah ditetapkan jadi salah satu state dari 13 state oleh pemerintah Malaysia.

Bulan September lalu, pas keluarga gue merencanakan trip ke negeri tetangga itu, babeh gue pengen ke kawasan yang ada unsur Melayu-melayu-nya. Terus gue searching google, eh ketemulah Melaka! Dan gue sendiri jadi keinget lagi dengan melaka dan buku IPS yang gue baca belasan tahun lalu. Wah,tiba-tiba gue jadi pengen kesana. Gue liat foto-fotonya di google, ternyata Melaka itu bagus banget! *semoga bukan tipuan kamera kayak foto-foto kamar hotel, ;p*

Babeh gue setuju buat ke Melaka, akhirnya gue masukanlah Melaka dalam list perjalanan. :_

Rute Trip 1-8 September 2011 :

Batam – Bintan – Johor Bahru – Kuala Lumpur – Melaka – Singapura – Batam.

From KL To Melaka!

Buat yang penasaran seperti apa sih Melaka itu? Yup, simak cerita saya di bawah ini! :D

Sebelum memulai perjalanan ke Melaka, Gue sudah mempersiapkan tiga hal penting.

1. Booking Hotel.

karena trip gue itu H+4 lebaran, konon katanya Malaysia akan ramai sama turis-turis yang liburan. Ada kemungkinan juga kalo hotel-hotel (khususnya di KL) bakal full-booked. buat antisipasi itu, H-1 minggu sebelum berangkat, gue sudah booking hotelnya lewatnya booking.com, bayarnya pake credit card punya emak.

2. Bawa Peta

karena perjalanan gue sekeluarga ini bisa dibilang ‘backpacker’, alias ngeteng. jadi kita ga ambil tour atau sewa guide. Nah, gue-lah yang menjadi guidenya, maka dari itu, gue ga boleh ilang arah. So, aku butuh peta! *dora the explorer*. pas di Johor Bahru, gue iseng ke toko buku, ternyata toko bukunya nyedian berbagai macam peta wisata dengan destinasi yang bermacam-macam! Gue nemu peta wisata Melaka seharga RM 10 (sekitar Rp. 30.000). gue salut deh sama pariwisata Malaysia. Peta-peta yang ditawarin itu informasinya lengkap dan dapetinnya juga bisa dimana-mana! (gue pengen tahu kira-kira ada ga peta kota Jogjakarta atau peta kota Pekanbaru di Gramedia Bogor atau Jakarta? setau gue sih ga ada, ;p)

3. Booking tiket bus KL – Melaka – Singapura

sama halnya dengan hotel, gue juga antisipasi sama penuhnya penumpang kendaraan umum. Setelah cari-cari informasi, ternyata gue ga bisa booking tiket bus dari KL ke Melaka. Menurut salah satu web, katanya bus dari KL ke Melaka selalu tersedia setiap jam, jadi tidak perlu booking. Tapi kalau bus dari Melaka ke Singapore, kita masih bisa booking. Akhirnya gue booking 5 tiket, seharga  105ribu rupiah per orang.

Leaving from KL, Heading to Melaka

Dari Kuala Lumpur, sekitar jam 4 sore, gue sekeluarga pergi menuju terminal Bandar Tasik Selatan (BTS)  (lihat webnya disini). Terminal ini terletak di luar pusat KL (tapi masih di KL). Terminal ini merupakan terminal baru yang ngegabungan antar jalur bus rute-rute antar state Malaysia dan jalur Monorail dan KLIA Transit. Akses menuju ke  BTS gampang banget. Kalo dari KL Sentral, tinggal naik Monorail aja satu kali, ngelewatin sekitar 7-8 stesen (bahasa Melayunya stasiun, lol). Dibanding Indonesia, gue salut deh ama sistem transportasi Malaysia. Engga ribet dan ontime!

Terminal Bandar Tasik Selatan

FYI, tidak ada stasiun kereta di Melaka, so Melaka tidak bisa diakses sama kereta. Bus adalah pilihan yang oke buat pergi ke Melaka. Sesampainya di BTS, gue langsung ke loket buat antri beli tiket. Saat iu jam 5 sore, loket udah antri sama orang-orang yang mau beli tiket. Untungnya loketnya buanyak, jadi antri ga akan sepanjang antarian orang-orang yang kalap mau beli BB ;p. Antrian disana juga tertib.

Tiket ‘Bas’, hehehe

Jam 5 sore. Antrian Ramai.

Ada berbagai macam bus yang tersedia untuk rute KL – Melaka yang bisa kita pilih, tapi waktunya jalannya beda-beda. Tapi kualitas antar bus itu sebelas dua belasnya, engga jauh beda. Sama bagusnya, pas jam segitu, gue dapet Bus dengan nama Metro Bus, yang berangkat jam 17.30. 10 menit lagi berangkat. Pas gue cek jadwal keberangkatan, ternyata setiap jamnya ada sekitar 2-3 bus yang akan berangkat ke Melaka, so ga perlu kawatir buat beli tiket langsung di BTS.

Harga tiket sekali jalan KL-Melaka itu RM 12 atau sekitar Rp 36.000,-. Waktu perjalanan KL-Melaka sekitar 2 jam.

Habis beli tiket, kita langsung le lantai bawah buat nunggu ke waiting room. Ternyata busnya udah nunggu kita di luar. Langsung lah kita masuk ke busnya, wuii adem rek. hehe.

Pak Supir masuk ke dalam bus, kebanyak pak supir Malaysia itu orang-orang India, dan sejauh yang gue tahu, mereka itu jutek-jutek, engga ramah ama penumpang, :( tapi meski begitu, bus berangkat tepat waktu. :)

Ngelamun di jalan

Meski perjalanan lumayan panjang sekitar 2 jam, gue ga bisa tidur, akhirnya gue cuma bisa ngelamun ngeliatin pinggir jalan yang monoton, bikin bosen.

Arrival at Melaka Sentral

jam 7.30, saat itu masih belum gelap, kita pun sampai di Melaka. Kita diturunin di Melaka Sentral, terminal busnya Melaka.

Terminal Melaka Sentral bentuknya tergolong sederhana, engga semewah BTS. Setelah turun dari bus, kita masuk ke bangunan sau lantai yang ada disitu. Bangunan itu ada macam-macam tempat makan sama toko-toko macem-macem. yang paling mencolok buat gue itu ada McDonald, hehe. Baru juga nyampe, Emak gue langsung datengin salah satu toko snack deket situ. sambil emak gue liat-liat, gue coba cari informasi gimana caranya ke hotel yang sudah gue booking. Setelah tanya-tanya gue disaranin buat naik taksi aja. Di pintu keluar, ada kounter untuk pesan taksi. Baru juga napakin Melaka, emak gue udah shopping aje, hehehe. Beres belanja, kita langsung carter 1 taksi ke hotel. Biaya taksinya itu sekitar RM 15. Itu udah jadi harga resmi disana. Insya Allah engga ditipu.

Taksi di Melaka ini bukan taksi modern macam bluebird gitu, tapi taksi yang pake sedan lama. jadi yah.. sesek-sesek panas gitu, hehehe. Untung si pak supirnya ramah, jadi pas naik taksi engga bete-bete amat. Si Bapak Supirnya ngomong pake bahasa Melayu. Bapaknya bilang kalau mau makan, wajib coba Asam Pedas. katanya uenakk banget. siap pak, saya bakal coba!

sekitar 20 menitan naik taksi, sampailah juga di Hotel Hallmark Leisure (FYI, Hotel Hallmark itu ada banyak, pas gue bilang ke pak supir aja, dia tanya hallmark yang mana). Gue pilih hotel ini karena pas gue baca di webnya, akses ke tempat-tempat wisatanya deket. Hotel Hallmark ini berada dalam area UNESCO World Heritage (berdasarakan peta yang gue beli).Harga semalamnya di hotel ini sekitar Rp 250.000 untuk Deluxe Twin. Kamarnya bersih dan disediain air panas, hair dyer, pemanas air, kopi dan teh.

Habis check-in, naro-naro barang, istirahat bentar, langsung cabut lagi buat jalan-jalan *soalnya udah mau jam 9 malam, takut warung makan pada tutup, gue ga mau mati kelaperan. hehe

Emak Babeh gue di depan hotel

Night City Tour : Kampung Morten, Melaka River Cruise, and Dinner at (Nearly) Jonker Walk

Sekitar jam 9 malam, gue, emak, babeh, dan dua adek gue hangout di tengah kota Melaka.

Setelah tanya-tanya ke resepsionis, katanya jam segini masih ada beberapa warung makan yang buka, tapi selama jalan, gue hanya melihat sepinya jalan dan hampir semua toko udah pada tutup. oh em ji, apa karena hari itu bukan weekend ya jadi toko pada cepet tutup. Akhirnya kita coba terus jalan aja, siapa tau ada warung makan. 20 menitan jalan, kita sampai di pinggir sungai Melaka. Sungainya jadi cantik karena di sisi-sisinya dihiasi lampu-lampu warna-warni. Di pinggir sungai itu, gue nemu Kampung Morten!

The Gate of Kampung Morten

Setelah lihat peta, ternyata Kampung Morten ini situs bersejarah! wow, akhirnya kita masuk ke Kampung itu.. woww,, cantik kali kampung ini.. setelah gue selidiki, ternyata kampung ini dulunya pemukiman orang-orang Jawa yang lagi dagang di Melaka, terus ada bule bernama bla bla bla Morten gitu, dia netapin daerah ini jadi pemukiman mereka. woww.

Semua rumah di pinggir sungai itu tertata rapi dan dihiasi lampu warna-warni yang cantik. Gue perhatiin rumahnya jadi kayak miniatur mainan versi raksasa gitu saking bagusnya. Terus tiba-tiba gue liat ada satu rumah yang ramai ama orang-orang, loh? gue kira rumah-rumah ini cuma pajangan doank dan ga ada penghuninya, tapi kok rumah ini ada ya?

“eh.. eh .. itu boleh masuk ke rumah itu ya? itu kok ada banyak orang??” iseng emak gue nanya.

Pas gue perhatiin, kayaknya orang-orang itu pemilik rumahnya deh, bukan turis. habisnya mereka berpakaian seperti orang lokal, engga kayak turis. Pas gue baca-baca di internet setelah pulang, ternyata konsep perkampungan ini itu living museum, jadi rumah-rumah ini berpenghuni. hoo… keren banget yah.

Traditional Houses as Living Museums

Lagi asik liat-liat kampung Morten, tiba-tiba gue denger suara deru mesin dari sungai, wah ternyata ada boat wisata buat ngelilingin sungai! Kita semua pengen naik itu, pas nanya ke orang deket situ, ternyata tempat beli tiketnya lumayan jauh dari sini. Wew, yowelah jalan aja dulu. Akhirnya kita jalan menyusuri sungai demi bisa naik boat itu.

Melaka River Cruise

Edan, ternyata butuh sekitar setengah jam lebih buat jalan kaki menuju loket Melaka River Cruise, sambil ngos-ngosan, gue beli tiket cruisenya. Harga tiketnya RM 10 untuk dewasa dan RM 5 untuk anak-anak. Sambil nunggu boat berikutnya berangkat, gue beli minum dari mesin minuman terus poto-poto.

Colorful lights on the Entrance  of Melaka River Cruise

Loket Melaka River Cruise

beberapa menit kemudian kita dipanggil untuk naik kapal, hari itu udah jam 10 malam, tapi masih ramai ama pelancong.

Boat pun jalan, boat ini dilengkapi dengan narator yang sudah direkam sebelumnya. jadi selama boatnya jalan, akan muncul suara bapak-bapak yang menjelaskan tentang sejarah Melaka, dan dia juga nunjukin bangunan bersejarah di kanan-kiri sungai. Kesan gue selama naik kapal ini two thumbs up. Gue rasanya seperti hidup di jaman tahun berapa Masehi gitu. Mata gue dimanjakan oleh lampu-lampu berwarna hangat yang bikin bangunan-bangunan tua sekitar sungai jadi indaaahh banget. sesekali kita ngelewatin jembatan mini yang dibangun di atas sungai.

Wow.. This is The Best City Lighting Decoration I’ve Ever Seen…

Mata kita disuguhi oleh bangunan-bangunan jaman dulu yang ga pernah dilihat zaman sekarang, kayak benteng (fort), miniatur perahu layar  jaman  dulu, dan ada water wheel juga! wow, baru kali ini gue liat, ternyata gede juga ya.

Gue salut banget nih sama Melaka sejak jadi UNESCO World Heritage, kawasan intinya yang dipreservasi sedemikian rupa sampe bikin kita terbawa ke masa lalu. :)

Water Wheel

Boat-nya pun sama di titik harus muter balik ke tempat awal, karena area entrance tadi ga ada keramainan, akhirnya gue isin ke petugas apa bisa gue turun di pinggir sungai dekat situ. Ternyata boleh! syukurlah, tapi ternyata yang turun dari boat itu cuma gue sekeluarga doank, hehehe.

Turun dari kapal, gue langsung shock. Gue shock banget di depan mata gue ada hotel mewah di pinggir sungai kayak di film-film telenovela gitu. Depan hotelnya ada air mancur yang indah banget. Lampu-lampunya bikin hotel itu jadi high class. Ternyata nama hotelnya Casa Del Rio. Ga cuma bangunan hotelnya aja yang gonjreng, gerbang masuknya juga ga kalah gonjreng!

Casa Del Rio, A “Spanish-Look” Brightful Hotel

Gerbang Besar Casa Del Rio (betapa kecilnya gue!)

Setelah gue cek peta, ternyata kita sudah tiba di kawasan Jonker Walk. Jonker Walk itu semacam pusat belanja dan pusat kuliner terkenal di Melaka, niat gue sih dinner mau disitu, tapi pas gue sampe di Jonker, toko yang buka cuma chinese food restaurant, yang makan juga orang china semua, karena ga yakin menunya apa, kita ga jadi makan disitu. Akhirnya kita jalan agak jauh dikit dari Jonker, ternyata gue nemu warung makan. Disitu gue liat pengunjungnya ada orang-orang berparas Melayu, sepertinya makanannya halal. Karena udah laper kritis, kita langsung cari tempat duduk disitu. FYI, tempat duduknya outdoor loh, kayak street food gitu. Pas gue duduk, gue liat kasirnya itu engko-engko China, gue bingung mau pesen ke siapa, tiba-tiba gue didatengin mbak-mbak berkulit putih, sepertinya dia pelayannya. Gue (dengen pedenya) ngomong berlogat Melayu.

“kak, adeu asam pedas disini?” tanya gue dengan logat Melayu (maksa).

“ada” jawab mbaknya. Assiikk ada asam pedas, itu kan makanan khas Melaka yang disaranin ama pak supir taksi.

“mbak, dari Indonesia ya? saya juga dari Indonesia? hehe” si mbaknya nambahin.

GUBRAK. Gue kira si mbak ini chinese Malaysia, eh ternyata dia urang Bandung. hahaha,

“oh dari Bandung teh? saya dari Bogor, lagi jalan-jalan kesini, hehe. saya kira teteh orang sini, eh teh makanannya halal kan?” entah tiba-tiba gue langsung manggil teteh sejak dia ngaku orang Bandung. Ga cuma di KL aja, orang Indonesia di Melaka juga melimpah ternyata.

“oh, halal kok mbak, meski yang punya orang china, kokinya orang Melayu kok mbak, tenang aja.. hehe” jawab tetehnya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Akhirnya, Gue pesen Asam Pedas Ikan Pari plus nasi, Babeh gue pesan Asam Pedas ikan apa gitu plus nasi, emak gue pesen sate ayam pake lontong.

Selang 15 menitan, makanan pun datang… huaahh. menggugah selera banget nih Asam Pedas. nyam.. nyam..

Asam Pedas

Asam Pedas itu semacam gulai ikan yang rasa rempah-rempahnya kuat banget, disajiin pake hot pot. pertama gue coba kuahnya, beuh maknyoooss… enak banget. Gue sendiri pertama kalinya makan ikan pari, ternyata enak deh. Porsinya juga besar, itadakimas ayo mas! :D

Harga seporsi Asam Pedas sama Nasi itu sekitar RM 9-10 (maaf lupa harga pastinya, yang pasti sekitar itulah, hehe).

Makan tengah malam di (dekat) Jonker Walk

After 00.00 AM – Lost in The City

Perut keiisi, pas cek jam, oh em ji, tenyata udah 11.30 malam! waduh, sekarang gue bingung balik ke hotel naik apa. Pas tanya ke tetehnya apa masih ada taksi ato ga, dia jawabnya engga ada. gue liat jalan sih emang udah sepi ama kendaraan. waduh, gimana ini.

Akhirnya, gue hanya bisa mengandalkan peta gue beli itu dan kita semua cuma bisa balik dengan pakai kaki sendiri. gue cek lokasi saat ini dan lokasi hotel, kalo diliat-liat sih deket. akhirnya gue yakinkan keluarga gue, kalo kita bisa sampe hotel secepatnya dengan jalan kaki.

Pertama, kita kudu ke kampung cina dulu.. gue susurin jalan-jalan perumahan yang udah sepi banget, *agak serem juga sih*

terus, akhirnya kita nemu kampung Chinanya, kita susurin jalan-jalan dalam perkampungan itu. Sama dengan bangunan lainnya, rumah-rumah di kampung China ini diberi pencahayaan yang mantab abis. Karena lampu ini, meski sepi, rasanya jalan disitu engga ketakutan, hehe. Gue sempet ngeliat gerombolan bule-bule londo yang baru berkeliaran jam segitu. Jam main mereka emang agak beda emang ama orang sini. pas giliran sepi, mereka baru berkeliaran.

Kampung Cina Melaka (Like others, the lights were sooo beautiful)

Bule-bule baru berkeliaran

Gue juga nemu sepasang bule yang lagi asik cari jalan pake buku wisata yang ada petanya. Samalah kita ya le.. gue juga lagi cari jalan balik nih. Terus, pas gue nyusurin satu jalanan sepi disitu, tiba-tiba gue liat ada benda-benda yang lagi di taro di atas jalan plus gue liat satu orang keluar masuk dari rumahnya ngeluarin barang itu. and you know what, ‘barang’ itu apa?

Potongan-potongan tubuh BABI

gue sedikit shock pas liat potongan kepala babi gede banget, ditaro di tengah jalan. pas ngelewatin barang-barang itu, sebisa mungkin gue sekeluarga bersikap tenang, tapi entah kenapa gue sekeluarga jadi tegang pas ngelewatin potongan-potongan babi itu! kayanya ini Babi raksasa mau dijualin.  gue pikir-pikir gue heran apa yang perlu kita takutin, padahal babi itu udah mati juga. hehe.

Gue terus coba cari jalan lewat, gue sama Inna, ade gue, ngira-ngira arah mata angin buat nentuin jalan mana yang kudu kita ambil. wew, survival banget ini, gue kasian ama adek gue yang bungsu, gue takut dia kecapekan jalan kaki mulu. tapi ternyata selama di jalan, Thia ade gue yang masih 5 tahun itu engga ngeluh sama sekali, dan dia juga engga minta digendong karena capek, dia terus jalaaan aja ngikutin. hehehe. keren sekali adikku ini. Justru yang ngeluh malah emak babeh gue, kesian juga udah tua disuruh jalan terus, hehe.

FYI, di dalam kampung China itu, ternyata ada beberapa rumah yang dijadiin Youth Hostel, pas gue cek harganya, wah ternyata lumayan murah, berkisaar 45ribu sampai 100ribu!

Hostel Murah di Kampung Cina Melaka (see the price on the door!)

Beres ngelewatin kampung China, tiba-tiba gue malah masuk ke jalan pinggir sungai, nah loh? kok balik kesini lagi?

Tiba-tiba gue jadi ketakutan sendiri, disitu sepi banget, ga ada orang sama sekali keculai gue berlima. Emak gue mulai panik sendiri, mulai ngomel-ngomel kalo gue salah ambil jalan (kayanya).

Gue mencoba tenang, gue yakin hotelnya deket sini, gue yakin kita ga bakal tersesat (padahal udah tersesat). Jam udah nunjukkin jam 12 tengah malam. haduh… mana ini hotelnya,

Huk! Nobody was there! *spooky mode on*

Akhirnya gue keluar dari area pinggir sungai itu, masuk ke daerah perumahan, pas gue cek di peta, ternyata gue udah ada di jalan yang deket banget sama Hotelnya, dengan ber-modalkan feeling dan harapan, gue ikutin jalan di depan mata gue, pelan-pelan..

Dan, syukur Alhamdulilah gue liat logo ‘Hallmark” dari jauh.. huah sampe jugaa!!! ya Allah, seneng banget gue. meski capek, tapi gue berhasil cari jalan pake peta. Horee!

Karena udah malam banget, kita langsung balik ke kamar buat tidur, masih banyak tempat menarik yang harus dikunjungi.. :)

Good nite Melaka.. see you tommorow.. :)

To Be Continued (See Belajar Sejarah di Melaka Part.2)

Comments on: "Belajar Sejarah di Melaka (Part.1)" (2)

  1. Melaka is similar to Jogja (in Indonesia), I just visited that city in 2010 and exactly looked so iconic for its long time cultural breeding. Just wonder you visited Christchurch at height of the hill, beautiful scenery to watchdog the ship traffic over Melaka Strait

  2. sevenofcloud said:

    yup agree!
    next chapter of my story will tell the readers about Christ Church :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 201 pengikut lainnya.