Environmental Friendly – Travelling – Unlimited Life

Menyentuh Tembok Raksasa China

Apa sih yang ada di benak kalian kalo mendengar kata “Tembok Raksasa China”?

Kalo gue pribadi sih, ada beberapa kata yang muncul di otak saya, pertama, “Keajaiban Dunia” “Gambarnya ada di Buku IPS” dan “Jauh”.

Pertama kali tau dan liat tembok raksasa itu saat pertama kali gue baca buku IPS kelas berapa SD gitu. Sejak saat itu hingga bulan Oktober lalu, gue hanya berpikir bahwa gue (mungkin) hanya bisa melihat Tembok Raksasa itu di buku Atlas atau liat imagenya di Google aja (kayak gambar di atas).

Perjalanan gue ke China Oktober silam sudah menghilangkan pemikiran gue itu.

For the first time, gue akhirnya bisa menyentuh Tembok Raksasa China! Yippie!

Dengan berbekal nekat dan uang pas-pasan, gue dan 9 temen gue pergi kesana setelah acara symposium selesai di Zhenjiang, kota yang berad jauh banget dari Tembok China.gue sendiri bertanggung jawab buat ngatur rencana perjalanan selama disana. Akhirnya, gue searching-searching lah info gimana caranya biar gue bersepuluh bisa ke Tembok itu. Ternyata untuk pergi kesana ada dua cara, 1. Ngeteng atau backpacking sendirian atau 2. Ambil Tour.

Berhubung waktu kunjungan gue singkat, gue ga mau ambil resiko untuk ber-backpacking ria. So, gue mutusin buat ambil one day tour ajah. gampang banget buat cari penyedia jasa tour ke Tembok Raksasa a.k.a The Great Wall. Pas googling, ga sengaja gue buka website www.greatwalltour.net, dan ternyata web ini menyediakan jasa tour kesana.

gue pelajari bentar informasinya, ternyata untuk booking tour itu ga susah loh!

di web itu, mereka hanya minta informasi tentang nama kita, jumlah orang yang akan ikut tour, penginapan kita selama di Beijing, dan paket tour apa yang mau kita ambil. Lebih enaknya lagi, kita ga perlu bayar uang apapun sampai kita ketemu tour guidenya di Beijing. wow!

Gue langsung email ke biro tour itu, gue ambil paket tour ke Mutianyu Great Wall + Ming Tomb seharga RMB 220 (atau setara dengan Rp 330.000) . Paket tour itu include Tiket Masuk ke Great Wall ama Ming Tomb, Makan Siang, dan Transportasi PP dari hotel dan kembali ke hotel lagi. Buat gue sih (segini mahasiswa ya), paket itu tergolong good-price kok. :)

Setelah email ke bironya, gue dapet balesan dengan cepat dari Jenny, salah satu staf bironya. Dia mengkonfirmasi ulang untuk booking gue, dan gue disuruh bayar saat gue ketemu guidenya pas di Beijing. (FYI, Tembok China ini jauh dan engga berada di kota besar, tapi kota besar terdekat dari Great Wall itu Beijing). And lucky us, karena kita booking dalam jumlah banyak, kita dapat diskon harga, jadinya kita bayar RMB 200 (atau Rp.300.000) !! Horee!!! :D

Sesampainya gue di Beijing (ampe skrg, gue masih ga percaya bisa nyampe Beijing tanpa ditemani orang lokal), gue ngecek ke resepsionis di hostel yang juga sudah gue booking apakah ada pihak tour yg menghubungi hostel itu soal perjalanan gue. Hostel gue itu Forbidden City Hostel. ternyata ada yang nelpon! wow~hebat ya itu biro tour bisa percaya ama kita yang tinggal di negeri jauhh dr China, dan mereka percaya kalo kita akan dateng! Untung aja beneran nyampe Beijing ya, hehe

Akhirnya gue telpon balik biro tournya, ternyata yang nelpon itu Tour Guide yang akan nemenin kita besok, namanya Justin. Dia hanya mau mastiin kalo besok pagi kita harus standby di lobi hostel jam 7.30 pagi. setelah gue bilang oke, gue langsung istirahat buat persiapan ke Tembok Raksasa.

huahh, rasanya kayak mimpi bisa kesana.

Keesokan paginya, Justin jemput kita di lobi, kita dibawa ke ujung jalan buat naik mobil van. Dalam perjalanan itu, peserta tour hanya gue bersepuluh plus dua bapak-bapak dari Singapura, cuma ber-12. Kita namakan dua bapak itu Bibit-Candra. hehehe.

Perjalanan ke Great Wall itu berkisar 2 jam kalo engga macet, karena gue ikutan tour gue mampir-mampir dulu, pertama mampir ke Industri Batu Giok (baca ceritanya disini), kedua ke Ming Tomb (baca ceritanya disini). Beres dari sana, kita langsung otw ke Great Wall. Sayangnya hari itu hujan dan banyak kabut. So, gue ga yakin kalo tembok china bakalan cerah, pasti bakal berkabut. Gue tetep enjoy ajaa, yang penting temboknya ada. hehee.

Mini Van yang kita naiki selama Great Wall Tour (itu Andra, kepala suku kita, jadi jangan ada yang asumsi kalo dia itu supir van-nya yah.. )

Kita sampai di Parkiran Great Wall sekitar jam 12 siang, pas banget waktu makan siang, akhirnya kita disiruh lunch dulu, ga pake lama, kita babat habis semua makanan yang dikasi, entah emang lagi dingin atau lagi laper, itu makanannya uenak bangetttt. . sampe-sampe gue ga sempet motoin resto ama makanannya, Setelah ngenyangin perut, kita langsung dibawa ke gerbang masuk.

Gerbang Masuk Cable Car (it takes 10-15 minutes to reach the wall)

Gue kira ketika kita sampai gerbang, kita langsung bisa lihat temboknya, tapi ternyata gue salah, untuk mencapai ke temboknya kita harus daki gunung dulu (butuh sekitar 1 jam) atau naik cable car seharga RMB 80 pulang pergi (sekitar Rp 120.000). karena hari itu mendung dan waktu terbtas kita langsung beli tiket cable car yang diurus ama Justin.

Ternyata cable car di Tembok raksasa itu sama kayak buat yang mau main ski, seru deh cara naik dan cara turunnya. bikin deg-degan karena kudu buru-buru naiknya, hehe. Pas naik cable car, rasanya kayak lagi terbang di awan, semua putih … di bawah kaki gue hanyalah pepohanan dan daun-daun yang berguguran di atas tanah.

Cable Car and The Fog

Ga lebih dr 15 menit naik Cable Car,Finally, we touched The Great Wall! Gue disambut dengan papan besar yang bertuliskan “Mutianyu Great Wall” plus petanya.

Welcome To Mutianyu Great Wall

Sebelum kita dilepas ama guidenya buat jalan-jalan sendiri, kita diberi arahan dulu ama Mr. Justin.

“Safety is Number One!” said Justin (left)

Karena kita hanya punya waktu sekitar 2 jam, kita langsung buru-buru gerak. Hari itu kabutnya tebal banget, agak disayangkan kita kurang bisa ngeliat panjangnya tembok itu secara jelas.

Kita menyusuri daerah curam, dan akhirnya gue baru ‘ngeh’ kalo gue udah berada di atas Tembok itu pas gue liat tekstur bata dan bentuk pagarnya.

OMG! I’m in Great Wall now!

“Argh!” I wanted to make sure that I really was on The Great Wall by trying to hit the wall, lol.

Jadi, ini ya yang gue liat di buku IPS waktu SD dulu.. Subhanallah.. gue bisa liat tembok ini langsung.

huahh, rasanya kayak mimpi bisa kesana.

Tembok ini ga cuma famous dalam bidang heritage atau pendidikan, tapi tembok ini biasa dijadiin lokasi buat game-game digital.

Misalnya, game Crash Bandicoot yang ada level di Great Wall, ada juga The Sims World Adventure yang mana Great Wall jadi salah satu destinasi liburan, terus ada juga salah satu game favorite di iPod gue namanya Bamboo, game ini itu si Panda ngambil bambu2 yang ada di Great Wall, hahaha.

Udara semakin menusuk badan sejak kita nyampe gerbang sampe nyampe di temboknya, brrr…

meski dingin, semangat kita untuk foto-foto engga pernah surut. di saat kita semua kedinginan.. kita bergaya sambil ngerapatin badan satu sama lain, biar anget, seperti ini nihh…

#eaaa, ngerapet semua yoo, biar anget.. *liat kabutnya.. ckck*

Hari itu, Great Wall rasanya kayak milik sendiri, disana ga terlalu rame sama pengunjung! paling cuma nemu 1-2 orang lewat, dan itu juga jarang-jarang,, hehehe.

Great Wall itu ada banyak pintu masuknya, dua diantaranya adalah Badaling dan Mutianyu. Akses ke Badaling itu lebih mudah dibanding ke Mutianyu. Makanya, Badaling Great Wall lebih ramai pengunjung dibanding Mutianyu, so we decided to go to more quite one, we choose Mutianyu!

Meski hari itu sangat berkabut, gue tetap menikmati pemandangan di Great Wall itu. Gue pun menemukan ‘cara lain’ untuk menikmati Great Wall meski tertutup banyak kabut (hayo penasaran ga? hehe). Justin, our guide said kalo pergi ke Great Wall pertama kali itu menjadi sesuatu yang paling bermakna, karena kita ga akan pernah tahu kapan kita bakal bisa balik lagi kesana, someone said maybe next 5 years, or somebody else said next 10 years, or maybe they never came back to Great Wall. Habis denger cerita itu, entah kenapa gue rada merinding dikit, so gue ingin memaknai perjalanan gue disitu, dan caranya hanya satu : Mendaki Great Wall itu.. gue pengen tahu sampai mana kemampuan gue buat daki tembok itu.. let’s climb!

Ignore the weather, keep climbing!

Tingkat kecuraman tangga di Great Wall itu bervariasi. kadang agak datar, kadang curam, kadang juga cura banget. Setelah sekitar 15 menitan daki, gue dkk sampai di benteng pertama, “hosh.. hosh” dan gue baru aja ngelewatin tangga yang asli curam banget. Gue aja takut nengok ke belakang.. hehehe.

Segini gue cuman ngedaki doank, gue ngebayangin gimana ya pekerja-pekerja yang masangin bata-bata temboknya di tempat terjal macem gini.. ckckck, ga habis pikir gue. FYI, Tembok ini dibangun selama 3 Dinasti, Dinasti Han, Dinasti Ming, dan Dinasti Qin. Dinasti Ming berkontribusi sangat besar dalam pembangunan Great Wall ini.

Di benteng pertama, kita pada break dulu, sebelum ngelanjutin pendakian berikutnya. Anehnya, disitu gue engga haus, gue hanya capek dan kedinginan aja. Setelah break sambil foto-foto di benteng, gue dkk langsung mau lanjut daki, ternyata dua temen gue, Andra dan Faris mau stay aja disitu, mereka kecapean, so mereka bakal nungguin kita disitu. kalo gue sih lanjyuttt…

semakin tinggi, semakin curam. wew~ rasanya udah kayak naik gunung aja, sesekali kalo capek kita duduk di tangganya, sesekali kita bertingkah aneh-aneh. pas gue lagi liat Ary yang pake lagiĀ  peci logo Komunis lagi senderan di salah satu sisi tembok, gue tercetus buat foto bareng dia, tapi dengan sedikit skenario biar lebih kerenn, inilah fotonyaa~

Gue : “Pak, ini sedikit dari saya ya, lumayan buat naik cable car pulang ke rumah bapak ..

Hehehe, si Ary mau-maunya aja lagi jadi pengemis Great Wall.. hehehe.

Si Ary mau ngerubah imagenya, dari pengemis jadi lelaki terhormat, so gue bantulah dia dengan foto se-terhormat mungkin..

ini yang gaya model yang difoto atau fotografernya ya? hehehe

*psst.. kapan lagi gue bisa tidur-tiduran di tembok yang ada di dalem buku IPS SD, ;p

eh setelah Ary gue fotoin, tiba-tiba gue mupeng pengen difoto ky begitu juga, alhasil si Adi, mengikuti style motoin ala gue deh.. hehehe

#eaaaa

ni orang beneran motoin atau pingsan ya? ;p

Setelah udah bisa napas lagi, kita lanjut jalan.. dan sampailah di benteng kedua! :D :D :D ga pake berhenti, kita langsung jalan lagi menuju benteng ketiga,

“hosh.. hosh..” cuapek banget.. tapi enaknya badan tiba-tiba jadi hangat, rasanya jadi gerah kalo pake sarung tangan ama jaket, rasanya pengen dilepas, tapi males bawanya, hehehe.

Setelah daki sekuat tenaga, sampailah kita di benteng ketiga! yey!

Pas gue cek jam, wah ternyata udah setengah jam waktu tersisa sebelum balik ke parkiran. Akhirnya kita putusin buat daki sampe benteng ketiga ini aja. Hiks, hiks, padahal gue pengen lanjut jalan…

disitu gue mencoba melihat pemandangan sekitar tembok, gue membayangkan bagaimana jaman dahulu tembok china ini dibangun. mungkin untuk orang yang tidak visioner, bangunan ini sangat engga mungkin ada. Hal yang sangat gue salut dengan China ini adalah visi mereka yang sangat besar. dari visi ini, mereka menjadi sejarah. Gue lihat, orang China itu suka yang besar dan megah. Makanya bangunan mereka selalu ga tanggung-tanggung gedenya, gede sekalian, terus waktu ulang tahun kampus tempat gue ikut symposium juga ngadainnya acaranya megah banget, setaralah kayak acara Panasonic Award. mantab dah. salut buat China.saat ini, banyak negara-negara yang udah punya visi-visi besar untuk masa depan, lihat aja dengan ambisi negara Timur Tengah buat ngebangun shopping mall terluas di dunia, gedung pencakar langit tertinggi di dunia. mungkin awalnya terlihat impossible bahkan gila. Tapi kita ga akan pernah tahu mungkin dalam puluhan tahun mendatang, mereka akan menjadi bagian sejarah.

Nah sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? apakah sudah ada visi-visi untuk membangun sesuatu yang BESAR sehingga negeri kita bisa menjadi bagian dalam sejarah di masa yang akan datang? :)

Well, balik ke tripnya, di benteng ketiga ini, gue puas-puasin juga berfoto riaa, dan sempet satu masa, kabutnya hilang, jadi jalur jalannnya keliatan! Orang yang beruntung bisa dapet foto bagus itu Ary dan Dito. Mereka bisa foto dengan background Great Wall lumayan cerah, pas gantian gue yang difoto, ehh mulai ngabutt lagi , huhuhu.

Well, tapi gue dapet foto oke juga yang buat gue merasa ada di Great Wall banget, hehehe.

Waktu pun habis, kita pun sepakat buat turun lagi, kalo turun engga sesusah naik, so enak-enak aja, hehehe.

Akhirnya, mau tidak mau, gue harus meninggalkan tembok itu, gue pun memeluk salah satu sisi tembok, sambil berkata “bye Great Wall, I’ll come back again.. I don’t know when it will be, but I will go back here..“.

hugs

Gue merasa dapet ikatan batin dengan tembok itu, hehehe. akhirnya kita langsung balik ke terminal cable car buat turun ke bawah.

back to cable car

ternyata pas naik cable car turun ke parkiran, kabut semakin tebal, mata gue hanya disuguhi pemandangan putih polos di depan mata gue.

wooow~ :o :o

Sekembalinya ke gerbang utama, kita langsung buru-buru balik ke parkiran karena waktunya udah di luar batas. hehe. Padahal disitu banyak toko-toko souvenir di sepanjang jalan antara pintu gerbang ampe parkiran. hehehe.

Akhirnya kita balik lagi ke Van dan bersiap-siap buat balik lagi ke Beijing. :)

Alhamdulilah, akhirnya gue bisa liat salah satu keajaiban dunia selain Borobudur, hehehe. Gue bisa coret satu tempat lagi dari list di buku ’1000 places to see before you die’ . Hore! :D

Well, that was my 1st trip to the Great Wall of China. It’s such an unforgettable moment. I learn a lot by only seeing it. ^^

Hopefully, I can go back here with my family or maybe with my future husband.. :D

Zai Jian! Wan-an!

Warmest Regards,

Annisa, Globetrotter-wanna-be

Comments on: "Menyentuh Tembok Raksasa China" (1)

  1. KAPAN KM KE TEMBOK BESAR CHINA

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 201 pengikut lainnya.